Peran Pemuda Pertanian dalam membangun Ekonomi bangsa di Era Revolusi Industri 4.0
Pertanian merupakan
aspek terpenting dalam suatu Negara, tanpa pertanian yang berarti tanpa
makanan, makhluk hidup akan kelaparan dan rantai kematian terus terjadi seiring
dengan berjalannya waktu. Indonesia yang terkenal dengan Negara agraris, tanah
subur di berbagai pulau di Indonesia, yang katanya ‘tongkat kayu dan batu jadi
tanaman’ harus memaksimalkan potensi-potensi yang ada untuk mencapai kemakmuran
masyarakat.
Namun, melihat realita
yang ada, penerus bangsa, anak muda generasi milenial dan generasi Z tidak
banyak yang mau berkecimpung langsung terjun ke lapangan untuk memajukan
pertanian Indonesia. ‘Menurut Menteri Pertanian, Andi Arman, nasib pertanian
Indonesia semakin buruk dengan sedikitnya generasi penerus perjuangan petani-petani
yang sekarang mayoritas dilakoni oleh orang dengan usia lanjut
(Wartakotalive.com, 2018). Hal tersebut sangat disayangkan, lantas kalau bukan
generasi milenial, siapa lagi yang akan menggantingkan para petani mengolah
sawah untuk mencukupi permintaan kebutuhan pokok seluruh rakyat Indonesia?
Realita berikutnya
yaitu mayoritas petani Indonesia bukan berasal dari kalangan berpendidikan
tinggi. Pedidikan tentu sangat diperlukan bagi seseorang untuk meningkatkan
pola pikir. Sedangkan, mayoritas petani Indonesia masih kolot dengan
mempertahankan cara-cara lama dalam mengolah sawahnya. Hal tersebut tentu
sangat tidak efisien di tengah hiruk pikuk permintaan akan bahan makanan
tersebut. Menurut survey yang dilakukan oleh Deddy Sinaga dalam CNN Indonesia
Student tahun lalu, petani Indonesia hanya mengenal jangka pendek, mereka hanya
memikirkan hasil yang didapat untuk memenuhi beberapa waktu ke depan, namun
tidak memikirkan jangka panjang yang berarti harus adanya pengolahan barang
agar bernilai lebih sehingga melipatkan penghasilan.
Era Revolusi Industri
4.0 merupakan revolusi teknologi yang dapat mengubah cara hidup, cara bekerja,
dan cara berkonektivitas satu sama lain (akurat.co, 2018). Revolusi Industri
4.0 semakin berkembang di Indonesia dengan melejitnya berbagai aplikasi-aplikasi
online yang memudahkan manusia dalam melakukan segala aktivitasnya. Revolusi
Industri 4.0 sangat memudahkan manusia dalam berbisnis, bekerja, maupun
melakukan sesuatu, hanya dengan smartphone, jaringan internet, dan aplikasi.
Dengan adanya Revolusi
Industri, zaman semakin berubah, dunia menjadi dalam genggaman, informasi
datang berturut-turut dan dapat dipilih sesuai dengan keinginan. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus
bangsa untuk menangani segala masalah yang ada dalam dunia pertanian. Banyak
pemuda yang mengaku tidak ingin menjadi petani karena takut kotor dan segala
macamnya. Namun, dengan adanya IT dan aplikasi bisnis dapat memudahkan kerja
petani masa depan. Petani masa depan mampu mengerjakan proses pertanian dari
hulu hingga hilir dengan efisien dan efektif.
Menengok ke Negara tetangga,
terdapat Australia, China, dan Jepang yang telah menuruti perkembangan zaman
dan memodifikasi mesin menjadi alat bantu pertanian. Segala teknik pertanian
dapat dilakukan dengan teknologi mulai dari penyiraman berjangka waktu,
pengontrolan kandungan pupuk, dan proses pemanenan.
Indonesia sebagai Negara
agraris tentunya harus mampu menyamai bahkan menyaingi teknologi dari Negara-negara
tersebut dalam dunia pertanian, khususnya. Perlu adanya inovasi dari para
pemuda pertanian untuk mengkombinasikan cara
tradisional yang telah mendarah daging di Indonesia dengan cara modern
yang berbasiskan pada IT.
Perlu juga adanya peran
Pemerintah untuk mendukung petani-petani dalam mengembangkan lahan garapannya.
Trainning pada petani tentang inovasi baru dan penggunaan bibit yang
berproduktivitas tinggi, serta biopestisida yang terus dikontrol sesuai dengan
kebutuhan.
Selain itu, peran
pemuda pertanian sebagai generasi penerus bangsa yang akan menjunjung tinggi
perekonomian Indonesia guna mencapai kemakmuran rakyat. Maka, harus ada
penghapusan pendiskreditan terhadap kaum petani. Petani yang selama ini kita
kenal berpenghasilan di bawah rata-rata, padahal mereka sudah berjasa memberi
makan manusia yang kelaparan. Petani justru terkalahkan oleh pengepul yang
mendapatkan penghasilan lebih tinggi padahal hanya memperdagangkan dan
membrandingkan produk hasil petani.
Perlu adanya perubahan system
di mana petani berpenghasilan lebih tinggi dari pengepul, agar terus adanya
regenerasi petani-petani muda yang lebih unggul.
Komentar
Posting Komentar